Selamat membaca !

"Semoga bermanfaat, anda boleh mengutip sebagian artikel di blog ini, dengan syarat wajib mencantumkan akun ini dan penulisnya sebagai sumber rujukan, terima kasih.."
Tampilkan postingan dengan label artikel saddam cahyo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel saddam cahyo. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 November 2024

RESENSI : Hamka: Ketuhanan Yang Maha Esa, Nafas Islam dalam Perjuangan Tegaknya Pancasila

 

Oleh : M. Saddam SSD. Cahyo*

 




 

Buku :

RISALAH URAT TUNGGANG PANTJASILA

karya HAMKA

Terbitan Pustaka Keluarga Djakarta, Tahun 1952.

 

 

 

 

Buku berjudul Risalah Urat Tunggang Pancasila ini merupakan salah satu karya klasik yang sangat penting dalam sejarah pergulatan wacana ideologi Pancasila di Indonesia. Hamka, salah seorang tokoh intelektual muslim yang paling berpengaruh itu memulainya dengan penegasan urutan sila KETUHANAN YANG MAHA ESA dengan cetakan huruf besar sebelum sila lainnya yang ditulis wajar: Peri-kemanusiaan; Keadilan Sosial; Kedaulatan Rakyat; dan Kebangsaan (hal.4).


Penyusunan risalah ini sendiri dibuat Hamka dalam rangka merespon dorongan  kaum pergerakan Islam di tanah air yang merasakan sentimen atas pidato Presiden Sukarno saat peringatan Isra Miraj di Istana Negara Jakarta tanggal 8 Mei 1951.  Pada momentum itu, Bung Karno, sapaan akrabnya, menyerukan kepada kaum muslimin pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya agar berjuang menegakkan negara dalam semangat persatuan yang kokoh dan tidak bercerai-berai serta menjadikan Pancasila sebagai dasar perjuangannya.

 Menurut Bung Karno, saat itu masih terdapat  ragam  golongan pergerakan nasional yang berjuang masing-masing  dan saling memunggungi, lantaran memakai dasar yang Keadilan Sosial saja, atau memakai Ketuhanan Yang Maha Esa saja, dan seterusnya. Padahal   semestinya Pancasila itu diperjuangkan ibarat Rukun Islam, yang tak boleh satu mengabaikan lainnya dan tak bisa  dikerjakan secara parsial, melainkan serentak keseluruhannya patut diposisikan sebagai dasar perjuangan untuk mencapai cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia yang seutuhnya.

Asas Tauhid dalam Pancasila

Hamka  secara objektif  paham betul maksud pidato Bung Karno, bahwa tak ada maksud untuk menyinggung kaum pergerakan berlatar agamis, baik kalangan Islam, Protestan, maupun Katolik. Ia kemudian merasa tergerak untuk menjernihkan pandangan kaum pergerakan Islam di tanah air tentang hal ihwal Pancasila itu.  Menurut Hamka, menjadi wajar jika  kaum muslimin mendasari perjuangannya dengan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa saja, karena selaras dengan asas Tauhid. Hal ini dimaknai sebagai pengakuan atas satu kepercayaan Kesatuan Allah baik dalam ketuhanannya, perbuatannya, maupun kekuasaannya.

Ketuhanan Yang Maha Esa mencakup tiga perkara kepada yang satu, yakni manusia, seisi kehidupan manusia, dan seluruh semesta alam, baik yang bernyawa maupun tidak, merupakan satu kesatuan Makhluk, yang diciptakan oleh sang Khalik. Tuhan Yang Maha Esa atau Rabbun itu senantiasa memelihara dan menjaga tiap-tiap Makhluknya dengan sifat Rahman dan Rahim, pengasih dan penyayang, sehingga Qudrat dan Iradat-Nya lah yang berlaku dalam pertalian Makhluk dengan Tuhan.

Bagi kaum pergerakan Islam, seluruh hidup ini berlangsung atas kehendak Allah, inilah Rahmat Ilahi itu, dan berpegang pada prinsip berasa Rahimlah terhadap sesuatu di Bumi agar dirahimi pula oleh yang di langit, karena setiap insan diciptakan untuk mengabdi pada Tuhan Yang Maha Esa. Tampak jelas betapa besarnya rahmat Ilahi itu atas manusia dan semesta alam beserta isinya, sehingga tak ada kesempurnaan makhluk, keindahan alam, keteraturan hidup dan kepastian jalan tanpa-Nya.

Karenanya seorang muslim selalu mempertinggi nilai hidupnya dengan beribadat dan berbakti kepada Allah. Ibadat sendiri tak sekedar terpaku pada ritual semata, melainkan seluruh segi kehidupan, karena hubungan manusia dan Tuhan tidaklah berjarak dan berperantara. Keyakinan pada Ketuhanan Yang Maha Esa itu kemudian diimani sebagai Sabilillah atau jalan Tuhan. Maka tak heran jika dijumpai suatu perkara yang dirasa tak selaras dengan jalan Ilahi itu, kaum muslimin kerap meluap naik semangatnya untuk bereaksi, sebab hidupnya adalah bakti dan matinya itu syahid.

Keteguhan pada dasar Ketuhanan Yang Maha Esa itu dalam rentang perjalanan sejarah bangsa ini telah mendorong lahirnya tokoh-tokoh besar yang merintis perjuangan kemerdekaan dari kondisi keterjajahan bangsa asing. Ia menumbuhkan nyala jiwa yang berapi-api pada sosok heroik seperti Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Cik Ditiro misalnya. Bahkan pada masa meletusnya revolusi kemerdekaan Indonesia, Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi satu-satunya tempat bergantung bagi hati Bung Karno dan Bung Hatta, para pemimpin maupun seluruh rakyat dalam perjuangan yang penuh pengorbanan itu.

Pada masa-masa genting dalam menghadapi berbagai macam halang rintang perjuangan kemerdekaan baik dari masanya kolonial Belanda sampai bengisnya fasisme Jepang, dan ditangkap serta diasingkannya pucuk kepemimpinan nasional Bung Karno dan Bung Hatta, perjuangan seluruh rakyat tidaklah kunjung padam dan mereda. Hal itu semata-mata karena bukan kepada Sukarno atau Muhammad Hatta atau manusia pemimpin lainnya yang mereka jadikan sandaran, melainkan dasar Ketuhanan Yang Maha Esa itulah yang menjadi bekal ketulusan dan kokohnya mentalitas manusia Indonesia untuk merebut kemerdekaan bangsanya.

Urat Tunggang Pancasila

Hamka kemudian menegaskan bahwa lantaran sepenuh hati berjuang dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa, maka dengan sendirinya akan dimiliki pula Sila Peri-kemanusiaan. Sebabnya manusia dan kemanusiaan yang setinggi-tingginya, pada keyakinan dan kepercayaannya, ialah yang paling dekat hubungannya dengan Tuhan. Sabda Tuhan sangatlah jelas bahwa kemanusiaan itu satu, sebagaimana hadis Rasul perihal yang sebaik-baiknya manusia ialah yang banyak manfaatnya kepada sesama.

Peri-kemanusiaan itu sendiri bukanlah barang baru dibuat, direncanakan, atau difilsafatkan, melainkan bagian tak terpisahkan dari keimanan yang tumbuh langsung dari sila paling pokok Ketuhanan Yang Maha Esa itu. apabila ada yang melanggar batas perikemanusiaan, ia tidaklah bertanggungjawab di hadapan sesama manusia, bukan pula di hadapan Bung Karno yang dikenal sebagai pelopor filsafat Pancasila, melainkan di hadapan Tuhan atas apa yang disebut Dosa. Tidaklah ada kelebihan seseorang manusia daripada manusia yang lainnya, karena yang mulia dipandang Allah hanyalah ia yang bertakwa kepada-Nya.

Allah dalam firman-firman Nya senantiasa memerintahkan umat Islam untuk memelihara anak yatim, mengurus fakir miskin, memperhatikan kesejahteraan tetangganya, saling tolong menolong dan bantu membantu, menunaikan zakat dan bersedekah, serta menghindari sifat riya kesombongan. Tidak satupun celah untuk bisa diragukan bahwa perintah Tuhan itu tak lain untuk mewujudkan Sila Keadilan Sosial. Maka barang siapapun yang percaya dan berpegang pada dasar Ketuhanan Yang Maha Esa, ia akan menuntut Keadilan Sosial. Jika tidak, berarti ia membohongi agamanya, menyia-nyiakan salatnya, dan dijanjikan Neraka Wail terhadapnya.

Bagi mereka yang menjunjung dasar Ketuhanan Yang Maha Esa, tak ada manusia yang diberi hak untuk menguasai sesamanya. Nilai yang dianut melampaui nilai-nilai demokrasi ala Barat, dan di sinilah letaknya Sila Kedaulatan Rakyat. Prinsipnya adalah kepercayaan bahwa manusia pemimpin adalah Khalifah Tuhan di Bumi, tetapi kepemimpinan itu diberikan karena adanya kehendak rakyat yang sesungguhnya berdaulat dan berkuasa. Amanat kekuasaan yang diridhoi Allah ialah yang dihasilkan melalu permusyawaratan rakyat untuk memilih bentuk pemerintahan menurut konteks tempat maupun zamannya.

Relasi kekuasaan yang disyaratkan adalah agar pemimpin yang dipercayakan rakyat itu diwajibkan untuk menjalankan keadilan, sementara rakyat pemberi kekuasaan harus mengawal dan menjaganya agar tak keluar dari jalan keadilan itu. Suatu bangsa harus memegang tiga pokok dari kemerderkaan: 1) Merdeka Iradah atau Kehendak, untuk senantiasa memperjuangkan yang maaruf atau kebaikan; 2) Merdeka Pikiran, untuk senantiasa berani melawan yang munkar atau keburukan; 3) Merdeka Jiwa, untuk bebas dari ketakutan apapun karena perjuangannya hanya dikarenakan kehendak Tuhan.

Selanjutnya Sila Kebangsaan yang sesungguhnya paling rentan karena bangsa itu sendiri adalah konsepsi yang abstrak dan bias subjektif. Namun, bagi pemegang dasar Ketuhanan Yang Maha Esa itu, senantiasa meyakini perintah Ilahi sebagaimana terbunyikan dalam Al Quran Surat Al Hujurat Ayat 13:

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."

Dengan demikian perihal kebangsaan Indonesia itu dengan segala keanekaragaman suku bangsa yang terkandung di dalamnya mendapatkan jaminan keselamatan dan eksistensinya untuk tumbuh dengan rukun, damai, kokoh, dan adil makmur di negara berjuluk Indonesia ini.

Hamka meyakini apa yang digugat oleh Bung Karno dalam pidatonya itu pada intinya menyasar pada golongan pemeluk agama baik Islam maupun lainnya yang tidak mengerti hal ihwal perjuangan dan pergerakan nasional, yang abai dan tidak pernah terlibat dengan sungguh-sungguh dalam upaya menegakkan Negara Pancasila ini. Karenanya Hamka turut menegaskan agar tiap-tiap kelompok agamis khususnya kaum muslimin untuk bergotongroyong dalam perjuangan dengan mendasari diri pada Sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai urat tunggangnnya Pancasila itu, maka dijamin terpeliharalah keempat sila yang lainnya.

Akhir kata, meski ditulis lebih dari tujuh puluh tahun yang lalu, risalah Urat Tunggang Pancasila karya Hamka atau yang bernama lengkap Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah, gelar Datuk Indomo serta populer dengan nama penanya, Buya Hamka (17 Februari 1908 – 24 Juli 1984) ini masih sangat relevan dan kontekstual untuk dibaca oleh generasi muda sekarang ini agar pemahamannya akan ideologi Pancasila bisa terbangun secara holistik. Tetapi tentunya perlu diiringii pula dengan memperkaya asupan bacaan pemaknaan Pancasila dari tokoh bangsa yang lainnya. Salam Pancasila!

------------------

*) Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional, Bekerja sebagai Analis Kebijakan pada Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP RI).


TERBIT di:

https://www.gemapos.id/26673/hamka-ketuhanan-yang-maha-esa-nafas-islam-dalam-perjuangan-tegaknya-pancasila#google_vignette 

https://gemapos.id/26673/hamka-ketuhanan-yang-maha-esa-nafas-islam-dalam-perjuangan-tegaknya-pancasila 

https://diksimerdeka.com/2024/12/10/ketuhanan-yang-maha-esa-nafas-islam-dalam-perjuangan-tegaknya-pancasila/#google_vignette 

https://merdika.id/ketuhanan-yang-maha-esa-napas-islam-dalam-perjuangan-tegaknya-pancasila/  

Jumat, 11 Februari 2022

OPINI: Menggelorakan Salam Nasional: “Salam Pancasila!”


Oleh: M Saddam SSD Cahyo*

 

Tak lama berselang usai kemerdekaan bangsa dan negara Republik Indonesia yang telah begitu lama diidamkan itu diproklamirkan, lewat upacara bendera yang sederhana namun penuh khidmat oleh para para pendiri bangsa, terutama  dwi-tunggal Soekarno-Hatta di bilangan Pegangsaan Timur Nomor 56, Menteng, Jakarta Pusat pada pagi hari tanggal  17 Agustus 1945. Sebuah Maklumat Pemerintah diterbitkan pada tanggal 31 Agustus 1945 yang memberlakukan pekik perjuangan “Merdeka!” sebagai  Salam Nasional bagi seluruh rakyat Indonesia.

Mengutip dari laman resmi Museum Nasional Proklamasi (http://munasprok.go.id/) Salam Nasional ini dilakukan dengan tata cara mengangkat tangan setinggi bahu, telapak tangan menghadap ke muka dan bersamaan dengan itu memekikkan Merdeka!. Sementara dari versi film dokumenter karya sineas Kotot Soekardi yang tersimpan di ANRI narasinya berbunyi: “..Tangan kanan naik setinggi telinga, jari lima bersatu, apakah artinya itu? negara kita telah merdeka. Suara mengguntur mengucapkan salam nasional Merdeka!, kita siap sedia mempertahankannya walau dengan jalan yang bagaimanapun juga, Merdeka!..”

Riwayat Salam Nasional

Salam Nasional ini pun terlahir dari akar rumput dan dialektika perjuangan, dimana zeitgeist alias semangat zaman pada masa revolusi fisik dipenuhi gelora dan euforia kemerdekaan. Perkataan seperti “Sekali Merdeka Tetap Merdeka!”, “Merdeka Sekarang Juga!”, “Merdeka Bung!”, “Indonesia Merdeka”, atau “Merdeka Atau Mati!” oleh para pejuang tak hanya marak digaungkan secara verbal, tetapi menjamur dalam coretan dinding maupun poster. Masih lekat di ingatan, rekaman pidato membara Bung Tomo di Perang 10 November yang berlangsung selama tiga pekan di Surabaya demi mempertahankan kemerdekaan dari balatentara Sekutu dan NICA, dengan gema pekiknya “Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar..Merdeka!”.

Sejarawan Prof. Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya Api Sejarah Jilid Jilid Kedua Edisi Revisi (2016: Hal. 171-173) mencatat sosok Otto Iskandardinata “Si Jalak Harupat” sebagai tokoh yang mengusulkan pekik perjuangan “Merdeka!” ini dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) tanggal 18 Agustus 1945, hingga kemudian salam ini dikukuhkan oleh Presiden Soekarno dan kian populer digandrungi massa.

Pernyataan ini diperkuat keterangan dalam buku lawas berjudul Ensiklopedi Politik (1955: Hal. 187) yang disusun oleh Tatang Sastrawira dan Haksa Wirasutisna, bahwa pada tanggal 19 Agustus 1945 Presiden Soekarno membahas tentang perlunya salam nasional sebagai suatu pekik yang menggelorakan jiwa seluruh rakyat Indonesia dan beberapa opsinya bersama Otto Iskandardinata. Pada rapat Badan Pekerja - Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP) di Jalan Kramat Raya ia kembali mengajukan ucapan “Indonesia Merdeka!” sebagai pekik dari Salam Nasional.  

Pidato Presiden Soekarno di forum Kongres Rakyat Jawa Timur di Surabaya pada 24 September 1955 juga turut memberi penjelasan tentang filosofi dari Salam Nasional,“..Pekik merdeka, saudara-saudara, adalah pekik pengikat. Dan bukan saja saja pekik pengikat, melainkan adalah cetusan daripada bangsa yang berkuasa sendiri, dengan tiada ikatan imperialism, dengan tiada ikatan penjajahan sedikitpun. Maka oleh karena itu saudara-saudara, terutama sekali fase revolusi nasional kita sekarang ini belum selesai, jangan lupa pada pekik merdeka! Tiap-tiap kali kita berjumpa satu sama lain, pekikkanlah merdeka!..”.

Patut disayangkan terkait masih adanya silang pendapat perihal Salam Nasional ini, terlebih dengan narasi yang simpang-siur dan cenderung menyesatkan atau malah berpotensi mengundang perpecahan bangsa. Sebuah sikap yang tak sepatutnya dipelihara karena berwatak ahistoris dan reaksioner serta jauh dari kebijaksanaan. Padahal, jika dicermati lebih jauh sebenarnya kehadiran sebuah Salam Nasional memiliki dampak yang teramat positif sebagai upaya merawat kesatuan dan persatuan, serta asupan moral kolektif agar selalu teguh membangun bangsa dan negara tercinta.

Di masa awal peralihan kekuasaan Orde Baru, Presiden Soeharto yang masih berstatus Pejabat Presiden pada kunjungan kerjanya di Makassar, tanggal 24 Oktober 1967 dalam pidatonya menyampaikan agar rakyat Indonesia memperbarui Salam Nasional untuk disesuaikan dengan perkembangan zaman. Ia meminta pekik “Merdeka!” disambut dengan perkataan “Ampera!” yang tak lain akronim dari Amanat Penderitaan Rakyat sebagai akar dari program pembangunan nasional usai diraihnya kemerdekaan. Modifikasi Salam Nasional ini pun terus digemakan Presiden di tiap kunjungan kerjanya ke daerah (Historia.id, 1/3/21).

Faktanya Salam Nasional dengan pekik “Merdeka!” yang tertuang dalam Maklumat Pemerintah ini belum pernah dicabut oleh siapapun,  karenanya banyak tokoh berpendapat secara yuridis aturan ini masih berlaku. Namun, nyatanya ia memang sudah terlampau jauh dilupakan dan tertimbun distorsi, bahkan stigma. Sehingga dalam upaya revitalisasi tanpa mengubah sedikitpun substansi makna yang terkandung di dalamnya, hadirlah Salam Nasional: “Salam Pancasila!” untuk kembali digelorakan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Metamorfosis Salam Pancasila

Pertama kali di tahun 2017 dalam acara Peluncuran Program Penguatan Pendidikan Pancasila di Istana Bogor, Megawati Soekarnoputri saat itu selaku Ketua Dewan Pengarah dari Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) menggagas revitalisasi Salam Nasional yang disebutnya Salam Pancasila. Di hadapan Presiden Joko Widodo, para Menteri, jajaran pimpinan tinggi UKP-PIP, serta 500an peserta dari unsur akademisi dan mahasiswa tersebut ia juga memperagakan langsung dan menerangkan maknanya yang diadaptasi dari Salam Nasional dengan pekik “Merdeka!” (Tempo.co, 12/8/17).

Saat peresmian Baileo rumah adat Maluku, Monumen Bung Karno, dan penamaan jalan di Masohi, Maluku Tengah secara daring pada 21 Juni 2021, Presiden Republik Indonesia Ke-5 itu pun kembali menegaskan misinya sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) untuk konsisten memopulerkan Salam Pancasila sebagai Salam Nasional. Menurutnya jika ucapan salam ini menjadi kebiasaan dalam interaksi masyarakat, maka nilai inti dari Pancasila yakni gotong royong tidak hanya akan selesai di mulut, melainkan benar-benar tumbuh di hati, dan terwujud dalam laku hidup sehari-hari (Republika.co.id, 21/6/21).

Urgensi menggelorakan Salam Pancasila ini juga selalu diutarakan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia Ke-6 Try Sutrisno yang turut mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Dewan Pengarah BPIP. Semisal dalam Simposium “Penataan Wilayah Pertahanan RI Dalam Rangka Mewujudkan Pertahanan Negara Yang Tangguh” yang diselenggarakan oleh Kemhan di Jakarta, 9 Juli 2019, disampaikannya untuk terus mengenalkan angkat lima jari dan teriakkan Salam Pancasila! agar menjadi penangkal dari pengaruh buruk dari konten atau isu yang bisa menggerus Pancasila (Antaranews.com, 9/7/19).

Presiden Jokowi dalam pengarahannya saat pengukuhan Purna Paskibraka Tahun 2021 sebagai Duta Pancasila di halaman Istana Negara juga penuh semangat mengucap Salam Pancasila. Ia mengingatkan putra-putri terbaik bangsa itu akan realitas negeri yang penuh keberagaman namun dipersatukan oleh ideologi Pancasila. Diharapkan agar mereka mampu menjadi motivator bagi pemuda lain di seluruh penjuru Indonesia untuk berprestasi sebagai pelopor perubahan dan kemajuan (Setkab.go.id, 18/8/21).

Meminjam analogi Yudi Latif, Ph.D. mantan Kepala UKP-PIP hingga masa awal beralih menjadi BPIP dalam beberapa kesempatan ceramahnya, diibaratkan protokol sabuk pengaman yang selalu diingatkan berulang-ulang oleh pramugari di dalam kabin pesawat. Barangkali pesannya akan terdengar menjenuhkan, tapi sesungguhnya ia justru menjadi pengingat yang akan sangat menentukan keselamatan diri kita dalam keadaan darurat yang tak terduga datangnya. Salam ini kiranya akan berguna untuk memupuk jiwa nasionalisme rakyat Indonesia.

Terobosan gagasan metamorfosis Salam Pancasila sebagai Salam Nasional ini pun senafas dengan Presiden Soekarno sendiri yang dapat dijumpai dalam buku otobiografi Sukarno An Autobiography: As Told To Cindy Adams (1966: Hal.224) atau mungkin lebih dikenal versi terjemahan Bahasa Indonesianya yang berjudul Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Dikutipkan, "..As the Prophet invented the Salam to unify his followers, so the inspiration descended from God Almighty to proclaim one national greeting for the Indonesian people. The first of September I decreed every citizen of the Republic should greet another by raising his hand, spreading fingers wide in token of our five principles and shouting, "MERDEKA!..".

Prof. KH. Yudian Wahyudi usai dilantik oleh Presiden Joko Widodo sebagai Kepala BPIP pada tanggal 5 Februari 2020 juga cukup concern pada upaya pembumian Salam Pancasila sebagai Salam Nasional. Sayangnya dalam video wawancara eksklusif bersama Detik.com pada 12 Februari 2020, ikhtiar itu sempat direspon begitu riuh khususnya oleh sebagian elemen masyarakat di ruang maya dengan semakin dikeruhi oleh framing yang kontra produktif dan bernada hoaks.

Padahal jika utuh disimak, saat itu ia sedang merespon pertanyaan jurnalis tentang ekspresi nilai kebinekaan dari mantan Mendikbud Prof. Daoed Jusuf yang tak pernah membuka percakapan formal dengan salam agama tertentu sebagai panutan. Hal ini dihadapkan pada kasus adanya kecenderungan abai terhadap toleransi dengan hanya mengucap salam agama tertentu saja, sementara banyak umat beragama lain yang turut hadir. Dalam konteks inilah, Prof. Yudian mengajukan Salam Pancasila sebagai alternatif kebinekaan yang dapat dipakai untuk menghargai perbedaan dan menjaga persatuan, semisal di berbagai momen pembukaan acara formal di ruang publik (Tempo.co, 21/2/20).

Patut disyukuri kedewasaan rakyat Indonesia memang sudah teruji dalam banyak aral-rintang. Secara berangsur, kini maksud baik dari upaya membangkitkan ingatan kolektif pada Salam Nasional yang lama terabaikan itu kian pulih. Pun demikian penerimaan pada gagasan Salam Pancasila ini tampak semakin bersambut, seiring dengan meningkatnya kesadaran bersama akan pentingnya lebur merawat harmoni dan mengeratkan persatuan ketimbang hancur dalam pertikaian tak berujung. Akhir kata, izinkan saya menutup tulisan ini dengan mengucapkan salam yang mempersatukan kita semua, “Salam Pancasila!”.

--------------

*)Alumnus Sosiologi FISIP Universitas Lampung. Peminat  Kajian Sosial-Budaya-Politik.

Saat ini bekerja sebagai Analis Kelembagaan di Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Terbit di:

https://diksimerdeka.com/2022/02/11/menggelorakan-salam-nasional-salam-pancasila/  

https://monologis.id/kopilogis/menggelorakan-salam-pancasila  

https://www.silanews.com/ruang-publik/pr-2092638142/menggelorakan-salam-nasional-salam-pancasila-begini-sejarahnya 

MAJALAH SILAPEDIA Edisi Kedua, Maret 2022, Halaman 164.


--------------

Rujukan Buku:

“Api Sejarah Jilid Kedua Edisi Revisi” oleh Ahmad Mansur Suryanegara. Penerbit Surya Dinasti. Bandung. 2016.

“Ensiklopedi Politik” oleh Tatang Sastrawira dan Haksa Wirasutisna. Penerbit Perpustakaan Perguruan Kementerian PP dan K. Jakarta.1955.

“Sukarno An Autobiography: As told to Cindy Adams” oleh Cindy Adams.Penerbit Gunung Agung. Jakarta.1966.

 

Rujukan Daring:

http://munasprok.go.id/Web/baca/464

https://historia.id/politik/articles/pekik-merdeka-gaya-soeharto-P3om4/page/2

https://cekfakta.tempo.co/fakta/632/fakta-atau-hoaks-benarkah-kepala-bpip-usulkan-ganti-assalamualaikum-dengan-salam-pancasila

https://www.antaranews.com/berita/947721/try-sutrisno-ayo-gelorakan-salam-pancasila#.YedZRcpNUX8.whatsapp

https://nasional.tempo.co/read/899362/megawati-perkenalkan-salam-pancasila-ajaran-soekarno

https://www.republika.co.id/berita/qv1ox5430/megawati-ingin-populerkan-salam-pancasila

https://setkab.go.id/pengarahan-presiden-ri-kepada-purnapaskibraka-tahun-2021-18-agustus-2021-di-halaman-tengah-istana-merdeka-provinsi-dki-jakarta/

Senin, 06 Desember 2021

CERPEN : Si Pemabuk Mimpi

 


Oleh : Saddam Cahyo*

 

Klik-klik..

Tanda bunyi pesan masuk di jejaring media sosialku menjelang dini hari.

“Itu salah mu sendiri lho, jangan limpahin sesalmu ke aku dong, salah alamat. Kamu yang gak pernah tahan sendirian. Gak mau nunggu aku siap.”

Pesan masuk ini sudah tentu berasal darinya. Siapa lagi orang yang bakal aktif menghubungiku hanya di waktu semua orang lelap berselancar dengan mimpi-mimpinya.

Sementara aku, belakangan ini harus diserang gejala sakit hati dan pikiran yang kambuhan. Hampir setiap malam tubuh menuntut direbahkan, tapi mata teramat takluk pada keresahan. Ia tak sudi memejam sebelum pesan demi pesan masuk terbaca hingga menjelang fajar.

Sebenarnya putaran ini sudah berlangsung dalam sepuluh tahun terakhir. Bukanlah waktu yang singkat, apalagi mudah untuk dilewati. Bayangannya nyaris setiap hari selalu saja terputar dengan sendirinya di dalam kepala. Memori ingatan dengan mudah bergulung mundur ke setiap lapisan peristiwa yang berkenaan dengannya.

Bagaimana Tuhan begitu jenaka, mempertemukan kami tapi seperti tidak untuk disatukan sama sekali. Lucunya ini terjadi berkali-kali, terus berulang dalam adegan demi adegan dengan tingkat penyesalan yang kian berlipat pula.

Dari tahun ke tahun, tiap kali musim perjumpaan dengannya harus berakhir, aku kembali menutup dengan satu simpulan yang tak pernah berubah, bahwa aku hanyalah seonggok manusia bodoh yang diberkati nafas kehidupan. Tak ada lain.

Ibarat Sisifus yang mashur akan keburukan hidupnya dalam mitologi Yunani. Dikutuk para dewa agar selamanya memikul batu karang naik ke puncak bukit hanya untuk melihatnya kembali menggelinding ke bawah. Lalu kembali ia ulangi tindakan yang sama, entah untuk keberapa kalinya, dan luka apa saja yang harus dialami dalam pendakian tanpa henti itu.

“Apa sebelumnya pernah kamu tanya? Saat kamu benar-benar sendiri? Setahuku enggak.” Pesannya kemudian.

Memang benar kata-katanya. Ternyata sama sekali aku tidak pernah sungguh-sungguh berjuang menggapainya. Alih-alih berusaha, aku cuma sibuk memetiki bunga mimpi. Mendambakan sambutan tangannya, tapi terus menggamit tangan-tangan mereka yang lain.

Dasar pemimpi, bahkan dalam mimpi pun masih bermalas-malasan.

Tapi sepertinya bukan hanya aku yang candu pada mimpi-mimpi ini. Entah bagaimana, ia bertahan tanpa pernah memiliki komitmen afektif dengan siapa pun sampai saat ini. Kemunculannya yang terus timbul tenggelam semaunya, dengan rentang waktu yang tak pernah bisa diduga, dan berbagai momen perjumpaan yang seperti jebakan ilahi. Semua ini terasa begitu dibuat-buat, terlalu disengaja untuk sebuah kebetulan.

Hasrat pecundangku selalu bergolak tiap kali memikirkan sudut pandang yang satu ini. Senyum sendiri dengan pikiran yang penuh halusinasi, dan beberapa saat  kemudian ujung bibir ditarik kecut memecundangi diri sendiri. Cih!

Jujur, aku sudah berusaha sekerasnya, kupaksakan diri untuk merdeka dari segala siksa harapan palsu ini. Tapi ia pula yang selalu tetiba muncul kembali. Sosoknya menjelma seperti bayang-bayang kutukan yang tak mungkin dihindari. Ibarat sebuah keniscayaan, yang entah bagaimana caranya harus diterima sebagai kenyataan.

Pernah satu kali, aku tegas memintanya. “Aku harus bilang ke kamu, aku mau kita menyatu.” Ucapku lebih dari lima tahun lalu, setelah berbagai kesalahpahaman harus kami lalui.

Apa jawabnya saat itu? Ingatanku sangat baik untuk merekam semuanya. Terus berputar ia menyusun kata-kata, entah memang karena seperti yang sekarang diungkapnya bahwa dulu ia belum siap, entah memang ia sekedar ingin menolak, atau justru memang itu caranya menikmati semua ini.

Sekarang, setelah satu dekade, ia muncul dengan gugatan. Hah? Bagaimana bisa ia balik menggugat semuanya. Bukankah selama ini aku yang terus dihembuskan hawa sejuk angin surga yang sengaja ia tiupkan saat aku mulai membiasakan diri dengan panas dan keringnya udara patah hati.

Sekarang, dengan berani ia katakan. “Bukan soal aku yang gak mau, tapi kamu yang gak pernah mau nunggu. Kamu gak beri aku waktu.”

Oh Tuhan, ternyata baginya ini soal waktu.

Aku ingat dengan benderang, bagaimana dulu kali pertama pesonanya tertangkap mata remajaku. Sikapnya yang antusias dan jenaka meski berbalut seragam putih-abu-abu dengan hijab panjang. Tawanya yang selalu dibendung dengan telapak tangan, namun tak pernah bisa menutupi dua lesung pipitnya yang teramat manis itu.

Aku masih bisa merasakan, bagaimana dulu kami menyambut senja duduk di tepi lapangan sepak bola kampus. Ngalor-ngidul adu argumentasi soal ideologi, padahal hanya demi membunuh rindu. Bagaimana kami bisa duduk seharian di taman beringin kembar hanya untuk menonton film dan bertukar buku. Bagaimana kami bisa menyebut bermacam alasan, dari jenguk teman sampai takut kesurupan agar bisa kembali bersua.

Aku hapal betul semua gesturnya, dan senyum itu sungguh menyiksaku dalam waktu yang begitu lama. Waktu yang sudah bergulung tebal dan tak mungkin lagi digelar. Waktu yang juga telah aku dan ia abaikan untuk tidak sekalipun masuk ke inti soal. Waktu yang kami biarkan mengalir deras dan liar, bercabang entah kemana. Waktu yang kini ia gugat seolah tanpa beban.

“Tapi sekarang udah gak bisa lagi andai-andai. Kita berbeda sejak awal. Bahkan dasarnya gak pernah bisa disamakan. Buatku ada cinta yang lebih agung dan tinggi ketimbang konsep cinta mu yang kerdil.” Tutupnya ketus.

Oh, barangkali kamu pikir aku bakal terluka mendengarnya. Berhenti, lalu pergi melupakan segalanya. Maaf, aku adalah sang Sisifus itu sendiri.

Kamu tahu? Begawan Albert Camus pernah menyodorkan sudut pandang yang berbeda dari awam kebanyakan. Mungkin, kamu sendiri yang harus membongkar pikiran. Betapa aku sebagai Sisifus yang terkutuk dalam derita, ternyata seorang yang tuntas. Sadar betul jika luka yang berulang itu justru jalan kebahagiaan.

Ya, ini adalah caraku untuk berbahagia karena pernah mengenalmu. Malah bisa jadi, aku adalah kamu itu sendiri.

Ah, dasar pemabuk mimpi!




--------------

Jagakarsa, 30 Juni 2021.

*) Seorang pekerja urban di Ibu kota. Tulisannya berupa laporan berita, cerpen, resensi, opini, esai kerap terbit di media massa. Tahun 2019 salah satu cerpennya berjudul “Kita Kalah Mbah, Sekali Lagi” terpilih masuk dalam buku antologi Yang Tergusur: Tanah Air Dan Banalitas Pembangunan.



 

Sabtu, 16 Oktober 2021

FRIKSI : Teruntuk Buku dan Belenggunya

                             TELAH TERBIT ! Tulisan Saddam Cahyo dalam Buku Antologi 

" BOOKLOVA: Kumpulan Kisah Seru Para Pecinta Buku " dari Rumah Produktif Indonesia



Teruntuk Buku dan Belenggunya

Oleh : M. Saddam SSD. Cahyo*

 

Bagaimana bisa aku menyebut buku sebagai belenggu? Lancang sekali kiranya. Bukankah ia dipuja dengan julukan si jendela dunia? Betapa manusia modern selama ini begitu takjimnya pada aksara, kepada kitab-kitab, dan para cendekia yang hidup berkelindan dengannya demi mencerahkan seisi dunia.

Buku ibarat monumen sejarah peradaban. Ia menjadi penanda terkuburnya zaman gelap pra sejarah. Tatkala manusia belum mengenal sistem bahasa yang kompleks dan konon nyaris berperilaku setengah binatang. Ya, buku adalah cermin kemajuan alam pikir manusia yang bervolume otak lebih besar karena kegigihannya berevolusi.

Sulaman Aksara Pengetahuan

Lewat rangkaian huruf yang disemat dan disulam dengan apik dalam gulungan kulit hewan, lembaran daun kering, ukiran tulang belulang, sampai goresan tinta pada kertas, segala macam pengetahuan, pengalaman, kesan, dan angan-angan kehidupan dicatat untuk bisa dipelajari. Orang-orang besar dan pemimpin di masa lalu bahkan identik dengan buku-buku yang dikaryakannya semasa hidup

Tradisi literasi yang mulia ini memanglah pencapaian luar biasa bagi peradaban manusia. Bagaimana tidak? Ia menjawab keresahan para tetua nan bijaksana, soal hidup yang harus diisi dengan mencecap segala pengalaman dan belajar darinya untuk kebaikan di masa depan. Namun, akungnya umur dan kemampuan manusia untuk bisa mengalami banyak hal sangatlah terbatas.

Kehadiran buku sebagai teknologi mutakhir dalam denyut nadi zaman telah sungguh-sungguh mengukuhkan keadaban manusia. Lebih jauh, buku-buku yang kian banyak diciptakan dan dipelajari di seantero penjuru dunia kemudian melahirkan budaya keilmuan. Ilmu pengetahuan sebagai sistem pengetahuan yang terstruktur dan terukur kian berkembang, pun demikian dengan pengajarannya.

Bahkan jika menengok banyak catatan sejarah di masa lalu, soal kerajaan-kerajaan mashur yang berhasrat tinggi membangun imperium dengan meluaskan kuasanya di muka bumi lewat jalan perang. Mereka tidak hanya membantai pasukan dari negeri lawan, tak sekedar meruntuhkah ajaran agama lokal, bukan cuma memperbudak rakyatnya, tapi juga membumihanguskan dan menjarah perpustakaan. Itu karena mereka sadar betul betapa buku adalah sumber ilmu pengetahuan yang harus dikuasai jika ingin berkuasa penuh.

Model kejahatan peradaban seperti ini terus diduplikasi meski zaman telah berubah. Di masa awal gerakan kolonialisme negeri-negeri barat atas dunia, mereka tidak berpuas diri dengan hanya menaklukan tanah jajahan dan menguras segala potensi kekayaannya. Bangsa-bangsa superior itu juga merasa berhak atas segala pencapaian pengetahuan bangsa jajahannya.

Tak ayal, sudah menjadi rahasia umum, entah berapa ton pastinya kitab-kitab kuno para leluhur Nusantara yang dirampas oleh Belanda dan tak kunjung dikembalikan sampai sekarang. Belum lagi akan tambah memilukan jika mengulik aneka koleksi artefak dan arsip asal tanah jajahan di museum negeri adidaya semacam Inggris, Prancis, Spanyol, dan sebagainya.

Mereka sadar betul cara ini adalah bagian utuh dari strategi penjajahan. Betapa jika sebuah bangsa yang telah menyusun hidupnya sendiri, lalu ditaklukan dan dirampas sumber ilmu pengetahuannya, ia akan melahirkan generasi yang terlalu bodoh untuk menyadari bahwa penjajahan di atas dunia bukanlah keniscayaan ilahi. Inilah kunci sukses kejayaan hingga sanggup membagi-bagi belahan dunia dalam genggaman kuasa selama ratusan.

Aku dan Buku

Lantas bagaimana urusanku dengan buku? Barangkali tulisan ini akan menjadi terlalu pribadi dan bernada subjektif. Bisa juga uraianku dianggap pesimistik, meski sesungguhnya tidak ditujukan demikian. Tak mengapa, karena telah menjadi hak mutlak pembaca untuk menafsirkan segala tulisan yang diterbitkan. Penulis tidak lagi sepenuhnya berhak menentukan makna. Bahkan jika ia sibuk memberi penjelasan, hanyalah menjadi khutbah di tengah lautan.

Bermula dari kebiasaan yang ditularkan mendiang Ayahku dengan ratusan koleksi bukunya. Beberapa bulan sekali, ia akan memaksaku untuk membantunya membersihkan debu dan merapihkan kembali susunan buku dalam rak-rak sesuai tema. Beberapa ia perlakukan khusus dengan bungkusan plastik transparan agar tak rentan rusak. Di tengah proses itu, ia akan mengulas kisah dibalik buku yang mengesankannya, entah karena isinya atau cara mendapatkannya. Beberapa ceritanya kadang sudah pernah diulang berkali-kali.

Si kecil aku, hingga masa remaja masih merasa jika ini hanyalah siklus yang memuakkan. Tapi seiring berjalannya waktu, aku menyadari telah mulai terhabituasi dengan tumpukan buku-buku. Di kolong ranjang kasur tidurku misalnya, entah sudah berapa banyak buku yang tersusun rapih dalam kardus-kardus. Meski semuanya hanyalah buku komik bergambar yang hampir setiap hari kubeli di toko loak sepulang sekolah.

Mulai dari cerita yang paling sederhana dan jenaka, hingga akhirnya mulai mengeja novel-novel yang kompleks. Aku semakin larut merenangi samudera aksara. Kemanapun, di manapun, sebuah buku yang sedang kugandrungi akan terselip di saku tas. Saat naik bus dan angkot, jam istirahat kelas, tengkurap di ruang tamu, sampai jongkok buang air besar pun menjadi waktu-waktu favorit buatku melahap kisah demi kisah yang ditulis.

Perpustakaan SMP rasanya sudah jadi taman bermain imajinasiku, dan pustakawan yang dikenal judes itu ternyata sangat ramah. Kecenderungan ini ikut bertumbuh seiring bertambahnya usia. Saat berseragam putih-abu aku punya kebiasaan baru, nyaris setiap hari sepulang sekolah aku berjalan kaki sejauh dua kilometer menuju satu-satunya Gramedia Store di kotaku saat itu. Meski setibanya bajuku harus agak basah diganjar keringat, tapi hembusan dingin dan aroma parfum mesin AC gedungnya sangat bisa diandalkan.

Ada beberapa alasan: pertama, harga buku mulai terasa mahal dan di sana selalu tersedia sampel tak bersegel yang bebas dibaca sambil berdiri; kedua, di sana ada beragam buku baru dengan genre yang seolah tak berbatas, belum lagi aneka benda yang seru buat sekedar cuci mata; ketiga, tentu saja karena tempat ini cukup popular khususnya bagi remaja. Aku tak hanya bisa memuaskan dahaga literasi, tapi juga menikmati pesona gadis dari beragam sekolah di kota itu.

Nafsu membacaku kian memuncak. Dari komik ke novel, cerita komedi dan roman, masuk ke buku sejarah, tokoh politik, dan mulai menjamah teori-teori sosial bukunya anak kuliahan. Semakin tebal saja buku yang menarik minat mataku. Ini pertanda semakin mahal pula harganya, dan karena uang saku jauh dari cukup hanya beberapa yang sanggup kutebus dan bawa pulang. Kebanyakan aku harus bolak balik dan berdiri minimal dua jam sehari demi menuntaskan bab demi bab yang menggugah fantasi.

Di bangku perkuliahan, hobi membacaku semakin mengapung kesana-kemari. Lebih dari separuh dinding kamarku mulai terinstal rak buku dengan koleksi yang akan terus bertambah karena sudah ada jatah belanja bulanan. Ya seperti para pemabuk aksara lainnya, aku memimpikan bisa membangun sebuah perpustakaan pribadi. Menikmati indahnya hidup yang berkalang buku. Kucatat dengan cermat identitas setiap koleksi yang baru masuk ke dalam buku besar sesuai genrenya. Tak hanya itu, kubuat fanpage facebook dan rutin mengupload fotonya ke dalam album sesuai tema. Bahkan kupesan khusus stempel karet ukir untuk menandai semua buku koleksiku.

Lambat laun nama Bengkel Batja Saddam Tjahjo mulai dikenal di kalangan teman sejawat, dan mereka banyak datang untuk sekedar meminjam dan berbincang seputar buku. Aku sangat menikmati pencapaian itu, bahkan sampai agak kewalahan menanggapi permintaan. Padahal tidak sedikitpun kegiatan ini dikomersilkan, murni hanya untuk kepuasan batin saja, peminjam buku hanya diwajibkan untuk mengkonfirmasi apakah sudah selesai membaca dalam sebulan, dan memberi sedikit ulasan sebagai bukti hasil bacaannya.

Aktivitas literasi ini akhirnya mendorongku melangkah lebih jauh. Rasanya sudah begitu banyak nama penulis dan karyanya yang ku simak baik-baik. Tapi seperti ada yang kurang, ya tentu mengapa tidak aku sendiri mulai belajar menulis? Akhirnya secara berangsur secara otodidak aku berusaha untuk membuat artikel resensi atas buku-buku yang pernah terbaca. Aku mencatat informasi detil dari buku yang diulas, dan berbagai hal penting di dalamnya, bahkan juga kesan pribadi atas karya tersebut.

Lama kelamaan, aku mulai candu menulis. Seolah inspirasi selalu bertaburan dan memohon dipetik lalu dikunyah, dicerna, dan diteruskan menjadi gagasan yang patut ditawarkan pada khalayak. Aku pun nekat menulis artikel opini serampangan, lalu mengirimnya terus menerus ke email redaktur koran-koran daerah. Setelah lebih dari sepuluh kali diabaikan, akhirnya kujumpai kegembiraan yang maha dahsyat. Seorang kawan mengabarkan tulisan berjudul Masyarakat Dilarang Mudik Lebaran! terbit di Jawa Pos.

Sejak itu produktivitasku menulis artikel pun semakin terpacu. Setiap bulannya minimal bisa lebih dari satu kali menjebol meja redaksi media massa baik cetak atau online di ranah lokal hingga nasional. Ternyata hobi baruku ini tak luput dari sorotan Ayahanda. Secara diam-diam ia mengkliping tulisan-tulisanku dan memamerkannya pada handai taulan yang berkunjung ke rumah. Sungguh itu adalah apresiasi yang sangat tinggi dan tak tergantikan nilainya.

Hobi menulis ini juga menjadi sumber penghasilan yang menggiurkan, meski tak seberapa dibanding pekerjaan fisik. Tapi hal ini telah mematangkanku untuk tumbuh sebagai orang dewasa yang mandiri dan berangsur bebas dari tanggungan orang tua. Aku juga terdorong untuk lebih sering dan banyak membaca, tak hanya buku kulahap tapi juga informasi terkini yang terus mengalir tanpa jeda dari siaran berita media massa. Isi kepalaku selalu bergolak, mengolah gagasan, dan meluap-luap dalam kerangka tulisan.



Berubah Jadi Belenggu

Sayangnya laju grafik kelindan hidupku pada buku malah jatuh melandai. Ada begitu banyak faktor dari realitas subjektif maupun objektif yang kualami kemudian, yang menuntut dan memaksaku untuk memalingkan wajah dari dunia literasi yang kuimpikan. Ya, aku pernah bersumpah harus menulis setidaknya satu buku yang berguna sebelum harus mati meninggalkan dunia.

Obsesi itu sepertinya terlalu besar buat jiwaku yang kerdil kala itu. Aku jatuh dalam kekecewaan pada diri sendiri, merasa gagal dan bodoh tak ketulungan. Segala upaya untuk bisa menemukan ide besar dan serius menuliskannya secara terstruktur malah menjebak diriku untuk berkali-kali tersandung hambatan dan jatuh tersungkur dalam jurang keraguan. Alih-alih mencapai kristalisasi gagasan, aku justru kian minder dan merasa tak layak.

Ditambah percepatan perubahan keadaan. Satu-satunya jalan yang kutemui hanyalah ikut dalam arus serapan pasar tenaga kerja seperti manusia pada umumnya. Maka habislah ragaku dilumat rutinitas pekerjaan, dengan lingkungan yang kian jauh dari tradisi literasi. Kebiasaan ku membawa buku ke tempat kerja dan membacanya di sela waktu istirahat dipandang terlalu aneh bagi semua orang yang ada di sana.

Tahun demi tahun berlalu, aku masih bertahan keras untuk rutin membaca, meski kemampuan menulis kian rontok. Otak seperti begitu mampet atas karat saat harus kembali menari di atas keyboard atau menggoyangkan pena. Sedangkan obsesi itu masih membara meski sudah terselip jauh di ujung lorong jiwa. Mental pecundang tumbuh menggerogoti akal sehat, seiring dengan kian menebalnya debu menyelimuti koleksi buku di kamar.

Bertahun-tahun kemudian aku hidup dalam keterasingan. Raga ku harus lebur dengan ritme rutinitas kelas pekerja yang menghisap habis energi dan pikiran. Seringkali dalam putaran waktu sepekan aku sungguh tak punya kecukupan tenaga untuk membaca, bahkan sekedar berita serius. Sialnya, jiwaku yang kosong ini berontak dengan cara yang entah baik atau tidak. Ia bergerak sendiri secara serampangan, ibarat samurai yang kalah perang dan dikepung ratusan lawan sebagai sebuah penghabisan.

Berangkat dari seorang penggemar bacaan, beralih menjadi kolektor buku yang produktif, tetapi kemudian harus terpuruk menjadi seorang pecandu buku yang tak punya arah. Apabila pembaca budiman pernah mendengar istilah tsundoku atau juga bibliomania, barangkali gangguan mental semacam fetisisme itulah yang menerpa jiwaku yang kalang kabut menerima perubahan kenyataan.

Setiap bulannya buku menarik yang diwartakan terbit semakin banyak saja, belum lagi siaran jalur khusus soal buku langka yang begitu layak jadi buruan. Aku sungguh kelelahan dan sering kehabisan uang, setiap minggunya satu demi satu kiriman paket buku datang ke rumah. Tak ada lagi pencatatan di buku besar, apalagi mau dibaca dan diulas. Buku-buku itu hanya menumpuk, kebanyakan masih tersegel, dan beberapa utuh dalam kemasan kardus dari toko asalnya.

Sesungguhnya aku merasa tersiksa. Keadaan ini tidaklah semudah mereka yang enteng saja mencibirku sebagai penimbun buku. Tak jarang pula penghakiman dunia datang dengan citarasa akhirat, mereka sebut kecanduanku ini akan menjadi dosa pemberat di masa hisab pasca kematian menjemput kelak. Duh, betapa mereka semua tak mau mengerti dan ambil peduli bahwa aku sedang membutuhkan uluran tangan penyelamat.

Beruntung, di sela riuhnya perhelatan tahun politik 2019 aku mendapatkan kesempatan emas untuk beralih profesi. Kini aku bekerja di lingkungan yang lebih kondusif untuk kembali menyuburkan gagasan dan tentu merujuk pada banyak referensi bacaan. Kusadari jika Tuhan memang selalu ada, tapi caranya menjawab doa memang selalu menjadi misteri bagi manusia. Luka pada jiwaku berangsur sembuh, kini tak lagi ada beban di pundak.

Kupilah dengan sadar memilah mana buku yang perlu dibeli dan layak dibaca. Selalu kusisihkan jeda waktu untuk mengolah gagasan dalam tulisan. Tanpa keraguan, aku suka berbagi buku sebagai tanda mata persahabatan. Belakangan cerpen dan esaiku mulai rutin lolos terbit di banyak ajang kepenulisan buku antologi, dan kumpulan artikel opiniku di masa lalu telah dikemas sebagai bunga rampai. Semoga kelak aku sungguh bisa menulis buku  sebagaimana diimpikan sejak awal. Amin.

--------------

*) Seorang pekerja urban di ibu kota negara. Alumnus Sosiologi FISIP Universitas Lampung. Kumpulan artikel opininya dalam rentang tahun 2010-2015 telah dibukukan dengan judul Biji Yang Bertumbuh: Bunga Rampai Pemikiran Kritis Mahasiswa di akhir tahun 2020 lalu.