Selamat membaca !

"Semoga bermanfaat, anda boleh mengutip sebagian artikel di blog ini, dengan syarat wajib mencantumkan akun ini dan penulisnya sebagai sumber rujukan, terima kasih.."

Senin, 25 November 2024

RESENSI : Hamka: Ketuhanan Yang Maha Esa, Nafas Islam dalam Perjuangan Tegaknya Pancasila

 

Oleh : M. Saddam SSD. Cahyo*

 




 

Buku :

RISALAH URAT TUNGGANG PANTJASILA

karya HAMKA

Terbitan Pustaka Keluarga Djakarta, Tahun 1952.

 

 

 

 

Buku berjudul Risalah Urat Tunggang Pancasila ini merupakan salah satu karya klasik yang sangat penting dalam sejarah pergulatan wacana ideologi Pancasila di Indonesia. Hamka, salah seorang tokoh intelektual muslim yang paling berpengaruh itu memulainya dengan penegasan urutan sila KETUHANAN YANG MAHA ESA dengan cetakan huruf besar sebelum sila lainnya yang ditulis wajar: Peri-kemanusiaan; Keadilan Sosial; Kedaulatan Rakyat; dan Kebangsaan (hal.4).


Penyusunan risalah ini sendiri dibuat Hamka dalam rangka merespon dorongan  kaum pergerakan Islam di tanah air yang merasakan sentimen atas pidato Presiden Sukarno saat peringatan Isra Miraj di Istana Negara Jakarta tanggal 8 Mei 1951.  Pada momentum itu, Bung Karno, sapaan akrabnya, menyerukan kepada kaum muslimin pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya agar berjuang menegakkan negara dalam semangat persatuan yang kokoh dan tidak bercerai-berai serta menjadikan Pancasila sebagai dasar perjuangannya.

 Menurut Bung Karno, saat itu masih terdapat  ragam  golongan pergerakan nasional yang berjuang masing-masing  dan saling memunggungi, lantaran memakai dasar yang Keadilan Sosial saja, atau memakai Ketuhanan Yang Maha Esa saja, dan seterusnya. Padahal   semestinya Pancasila itu diperjuangkan ibarat Rukun Islam, yang tak boleh satu mengabaikan lainnya dan tak bisa  dikerjakan secara parsial, melainkan serentak keseluruhannya patut diposisikan sebagai dasar perjuangan untuk mencapai cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia yang seutuhnya.

Asas Tauhid dalam Pancasila

Hamka  secara objektif  paham betul maksud pidato Bung Karno, bahwa tak ada maksud untuk menyinggung kaum pergerakan berlatar agamis, baik kalangan Islam, Protestan, maupun Katolik. Ia kemudian merasa tergerak untuk menjernihkan pandangan kaum pergerakan Islam di tanah air tentang hal ihwal Pancasila itu.  Menurut Hamka, menjadi wajar jika  kaum muslimin mendasari perjuangannya dengan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa saja, karena selaras dengan asas Tauhid. Hal ini dimaknai sebagai pengakuan atas satu kepercayaan Kesatuan Allah baik dalam ketuhanannya, perbuatannya, maupun kekuasaannya.

Ketuhanan Yang Maha Esa mencakup tiga perkara kepada yang satu, yakni manusia, seisi kehidupan manusia, dan seluruh semesta alam, baik yang bernyawa maupun tidak, merupakan satu kesatuan Makhluk, yang diciptakan oleh sang Khalik. Tuhan Yang Maha Esa atau Rabbun itu senantiasa memelihara dan menjaga tiap-tiap Makhluknya dengan sifat Rahman dan Rahim, pengasih dan penyayang, sehingga Qudrat dan Iradat-Nya lah yang berlaku dalam pertalian Makhluk dengan Tuhan.

Bagi kaum pergerakan Islam, seluruh hidup ini berlangsung atas kehendak Allah, inilah Rahmat Ilahi itu, dan berpegang pada prinsip berasa Rahimlah terhadap sesuatu di Bumi agar dirahimi pula oleh yang di langit, karena setiap insan diciptakan untuk mengabdi pada Tuhan Yang Maha Esa. Tampak jelas betapa besarnya rahmat Ilahi itu atas manusia dan semesta alam beserta isinya, sehingga tak ada kesempurnaan makhluk, keindahan alam, keteraturan hidup dan kepastian jalan tanpa-Nya.

Karenanya seorang muslim selalu mempertinggi nilai hidupnya dengan beribadat dan berbakti kepada Allah. Ibadat sendiri tak sekedar terpaku pada ritual semata, melainkan seluruh segi kehidupan, karena hubungan manusia dan Tuhan tidaklah berjarak dan berperantara. Keyakinan pada Ketuhanan Yang Maha Esa itu kemudian diimani sebagai Sabilillah atau jalan Tuhan. Maka tak heran jika dijumpai suatu perkara yang dirasa tak selaras dengan jalan Ilahi itu, kaum muslimin kerap meluap naik semangatnya untuk bereaksi, sebab hidupnya adalah bakti dan matinya itu syahid.

Keteguhan pada dasar Ketuhanan Yang Maha Esa itu dalam rentang perjalanan sejarah bangsa ini telah mendorong lahirnya tokoh-tokoh besar yang merintis perjuangan kemerdekaan dari kondisi keterjajahan bangsa asing. Ia menumbuhkan nyala jiwa yang berapi-api pada sosok heroik seperti Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Cik Ditiro misalnya. Bahkan pada masa meletusnya revolusi kemerdekaan Indonesia, Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi satu-satunya tempat bergantung bagi hati Bung Karno dan Bung Hatta, para pemimpin maupun seluruh rakyat dalam perjuangan yang penuh pengorbanan itu.

Pada masa-masa genting dalam menghadapi berbagai macam halang rintang perjuangan kemerdekaan baik dari masanya kolonial Belanda sampai bengisnya fasisme Jepang, dan ditangkap serta diasingkannya pucuk kepemimpinan nasional Bung Karno dan Bung Hatta, perjuangan seluruh rakyat tidaklah kunjung padam dan mereda. Hal itu semata-mata karena bukan kepada Sukarno atau Muhammad Hatta atau manusia pemimpin lainnya yang mereka jadikan sandaran, melainkan dasar Ketuhanan Yang Maha Esa itulah yang menjadi bekal ketulusan dan kokohnya mentalitas manusia Indonesia untuk merebut kemerdekaan bangsanya.

Urat Tunggang Pancasila

Hamka kemudian menegaskan bahwa lantaran sepenuh hati berjuang dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa, maka dengan sendirinya akan dimiliki pula Sila Peri-kemanusiaan. Sebabnya manusia dan kemanusiaan yang setinggi-tingginya, pada keyakinan dan kepercayaannya, ialah yang paling dekat hubungannya dengan Tuhan. Sabda Tuhan sangatlah jelas bahwa kemanusiaan itu satu, sebagaimana hadis Rasul perihal yang sebaik-baiknya manusia ialah yang banyak manfaatnya kepada sesama.

Peri-kemanusiaan itu sendiri bukanlah barang baru dibuat, direncanakan, atau difilsafatkan, melainkan bagian tak terpisahkan dari keimanan yang tumbuh langsung dari sila paling pokok Ketuhanan Yang Maha Esa itu. apabila ada yang melanggar batas perikemanusiaan, ia tidaklah bertanggungjawab di hadapan sesama manusia, bukan pula di hadapan Bung Karno yang dikenal sebagai pelopor filsafat Pancasila, melainkan di hadapan Tuhan atas apa yang disebut Dosa. Tidaklah ada kelebihan seseorang manusia daripada manusia yang lainnya, karena yang mulia dipandang Allah hanyalah ia yang bertakwa kepada-Nya.

Allah dalam firman-firman Nya senantiasa memerintahkan umat Islam untuk memelihara anak yatim, mengurus fakir miskin, memperhatikan kesejahteraan tetangganya, saling tolong menolong dan bantu membantu, menunaikan zakat dan bersedekah, serta menghindari sifat riya kesombongan. Tidak satupun celah untuk bisa diragukan bahwa perintah Tuhan itu tak lain untuk mewujudkan Sila Keadilan Sosial. Maka barang siapapun yang percaya dan berpegang pada dasar Ketuhanan Yang Maha Esa, ia akan menuntut Keadilan Sosial. Jika tidak, berarti ia membohongi agamanya, menyia-nyiakan salatnya, dan dijanjikan Neraka Wail terhadapnya.

Bagi mereka yang menjunjung dasar Ketuhanan Yang Maha Esa, tak ada manusia yang diberi hak untuk menguasai sesamanya. Nilai yang dianut melampaui nilai-nilai demokrasi ala Barat, dan di sinilah letaknya Sila Kedaulatan Rakyat. Prinsipnya adalah kepercayaan bahwa manusia pemimpin adalah Khalifah Tuhan di Bumi, tetapi kepemimpinan itu diberikan karena adanya kehendak rakyat yang sesungguhnya berdaulat dan berkuasa. Amanat kekuasaan yang diridhoi Allah ialah yang dihasilkan melalu permusyawaratan rakyat untuk memilih bentuk pemerintahan menurut konteks tempat maupun zamannya.

Relasi kekuasaan yang disyaratkan adalah agar pemimpin yang dipercayakan rakyat itu diwajibkan untuk menjalankan keadilan, sementara rakyat pemberi kekuasaan harus mengawal dan menjaganya agar tak keluar dari jalan keadilan itu. Suatu bangsa harus memegang tiga pokok dari kemerderkaan: 1) Merdeka Iradah atau Kehendak, untuk senantiasa memperjuangkan yang maaruf atau kebaikan; 2) Merdeka Pikiran, untuk senantiasa berani melawan yang munkar atau keburukan; 3) Merdeka Jiwa, untuk bebas dari ketakutan apapun karena perjuangannya hanya dikarenakan kehendak Tuhan.

Selanjutnya Sila Kebangsaan yang sesungguhnya paling rentan karena bangsa itu sendiri adalah konsepsi yang abstrak dan bias subjektif. Namun, bagi pemegang dasar Ketuhanan Yang Maha Esa itu, senantiasa meyakini perintah Ilahi sebagaimana terbunyikan dalam Al Quran Surat Al Hujurat Ayat 13:

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."

Dengan demikian perihal kebangsaan Indonesia itu dengan segala keanekaragaman suku bangsa yang terkandung di dalamnya mendapatkan jaminan keselamatan dan eksistensinya untuk tumbuh dengan rukun, damai, kokoh, dan adil makmur di negara berjuluk Indonesia ini.

Hamka meyakini apa yang digugat oleh Bung Karno dalam pidatonya itu pada intinya menyasar pada golongan pemeluk agama baik Islam maupun lainnya yang tidak mengerti hal ihwal perjuangan dan pergerakan nasional, yang abai dan tidak pernah terlibat dengan sungguh-sungguh dalam upaya menegakkan Negara Pancasila ini. Karenanya Hamka turut menegaskan agar tiap-tiap kelompok agamis khususnya kaum muslimin untuk bergotongroyong dalam perjuangan dengan mendasari diri pada Sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai urat tunggangnnya Pancasila itu, maka dijamin terpeliharalah keempat sila yang lainnya.

Akhir kata, meski ditulis lebih dari tujuh puluh tahun yang lalu, risalah Urat Tunggang Pancasila karya Hamka atau yang bernama lengkap Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah, gelar Datuk Indomo serta populer dengan nama penanya, Buya Hamka (17 Februari 1908 – 24 Juli 1984) ini masih sangat relevan dan kontekstual untuk dibaca oleh generasi muda sekarang ini agar pemahamannya akan ideologi Pancasila bisa terbangun secara holistik. Tetapi tentunya perlu diiringii pula dengan memperkaya asupan bacaan pemaknaan Pancasila dari tokoh bangsa yang lainnya. Salam Pancasila!

------------------

*) Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional, Bekerja sebagai Analis Kebijakan pada Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP RI).


TERBIT di:

https://www.gemapos.id/26673/hamka-ketuhanan-yang-maha-esa-nafas-islam-dalam-perjuangan-tegaknya-pancasila#google_vignette 

https://gemapos.id/26673/hamka-ketuhanan-yang-maha-esa-nafas-islam-dalam-perjuangan-tegaknya-pancasila 

https://diksimerdeka.com/2024/12/10/ketuhanan-yang-maha-esa-nafas-islam-dalam-perjuangan-tegaknya-pancasila/#google_vignette 

https://merdika.id/ketuhanan-yang-maha-esa-napas-islam-dalam-perjuangan-tegaknya-pancasila/  

Minggu, 27 Oktober 2024

RESENSI : Memahami Ideologi Besar Dunia : Buku Pemikiran Politik Barat Karya Firdaus Syam

 

RESENSI / REVIU BUKU

 Bab 12 : Memahami Ideologi Besar Dunia

(Buku Pemikiran Politik Barat: Sejarah, Filsafat, Ideologi, dan Pengaruhnya Terhadap Dunia Ke-3 karya Prof. Assoc. Dr. Firdaus Syam, M.A.)


 

Oleh:

M. SADDAM SOLIHIN SAPTA DWI CAHYO

 

PEMBAHASAN

Buku berjudul Pemikiran Politik Barat: Sejarah, Filsafat, Ideologi, dan Pengaruhnya Terhadap Dunia Ke-3 karya Firdaus Syam ini memiliki nilai lebih yang memberi titik pembeda dan unsur kebaruan ketimbang buku-buku dengan tema serupa yang pernah terbit mewarnai khasanah ilmu politik di Indonesia. Terutama bisa dijumpai dari upaya penggalian dan penegasan bahwa perkembangan pemikiran politik barat yang selama ini berlangsung dan dianggap paling unggul itu, ternyata juga memiliki akar pengaruh kuat dari perkembangan pemikiran tokoh besar dari golongan Muslim di masa lalu. Sebut saja Al Farabi, Ibnu Sina (Avicena), Ibnu Rusyd (Averros), dan Ibnu Khaldun yang legacy pemikirannya turut menjadi katalisator yang memantik gelombang pemikiran dunia barat.

 Sementara pada kesempatan ini saya memfokuskan diri pada pembahasan menarik dalam Bab 12 tentang Memahami Ideologi Besar Dunia yang termuat pada halaman 231 sampai 244. Firdaus Syam secara reflektif mengajak kita menyelami arus pemikiran yang berlangsung jauh di belakang, bagaimana serunya kemelut manusia dalam pergulatan sejarah peradaban. Secara umum terdapat dua kecenderungan manusia dalam prosesnya menciptakan sejarah: 1) adanya orang-orang besar yang meruntuhkan bangunan sistem kehidupan yang telah mapan; 2) adanya kelompok dan massa yang aspirasinya mempengaruhi peristiwa secara permanen.

Mereka inilah yang kemudian dikenal sebagai para pemimpin, orang bijak, filsuf, begawan, raoshanfikr, free thinkers, atau juga rasul dan nabi, yang kemudian juga mewujud sebagai ideolog karena memberi inspirasi serta bimbingan untuk mencapai suatu pembebasan dan pencerahan bagi masyarakat. Namun, di sisi lain sosok-sosok manusia istimewa yang berperan dalam roda zamannya itu sebagiannya ada pula yang punya kecenderungan untuk lebih mengedepankan hawa nafsu, dimana kecerdasan dan ambisi saling berkejaran hingga pada akhirnya justru malah merusak tatanan peradaban dan menimbulkan penderitaan bagi masyarakat.

Sehingga dapat digeneralisir bahwa terdapat dua golongan atau tipikal manusia ideolog itu, yakni:

1)  Ideolog yang “memaksa” atau koersif dan cenderung keras. Pada konteks ini kita dapat menjumpai bahwa Sang ideolog dalam memelopori proses perubahan sistem kehidupan atau peradaban itu dengan cara yang keras. Sejarah dibangun dalam nuansa permusuhan, pertentangan, pertumpahan darah, luka dan kepedihan. Adapun terasa harmoni yang manis tetapi terlalu singkat, sebab masyarakat manusia itu dibayangi oleh ketakutan,  ketidakpastian, sehingga tidak ada pembebasan dan yang terjadi justru pemasungan.

Sejarah umat manusia telah mencatat banyak fenomena dimana dalam suatu era hadir manusia ideolog yang punya kemampuan dan kharisma kuat untuk dapat menggugah dan membangkitkan gelora masyarakat agar tergerak memecah kebuntuan zaman. Pengaruhnya kemudian mampu “merasuk” dan “menyihir” alam pikir dan tindakan masyarakat yang kemudian menimbulkan kultus baru dan apa yang disebut sebagai isme-isme sempit. Dimana ideologi yang diperjuangkan secara kaku dan dogmatis itu justru tanpa disadari melahirkan konflik berkepanjangan dan penindasan.

Sebagai contoh misalnya Fasisme yang juga pernah hadir dalam bentuk gerakan Nazi oleh Adolf Hitler yang menganggap ras arya Jerman adalah bangsa unggul hingga memicu Perang Dunia Kedua. Komunisme ala Uni Soviet yang digawangi Joseph Stalin dengan hasrat menghalalkan segala cara bengis untuk menguasai dunia dan memunculkan perang dingin di paruh abad 20. Zionisme yang dibangun oleh bangsa Yahudi Israel sejak tahun 1980an dengan ambisi penguasaan tanah Palestina Muslim yang terus berlangsung mengkhawatirkan sampai saat ini.

Ideologi memang wajib dipertaruhkan sampai tercapai kemenangan dan tujuannya yang mulia, tetapi jika dilakukan dengan jalan hitam, sentimen, fanatik, arogansi, hipokrit, kepalsuan, kepicikan, kebohongan, otoritarian, dan kerakusan atas kekuasaan maka masyarakat akan menanggung buah pahit penderitaan yang traumatik atau tragedi dan keruntuhan. Pada akhirnya ideologi yang “memaksa” seperti ini hanya memberi kesan awal kepastian tetapi selalu diakhiri dengan kesanksian.

2)  Ideolog yang “mengajak” atau persuasif dan cenderung lembut. Meski daya dobraknya terkesan lemah dan lambat dalam memelopori perubahan bagi masyarakat, upaya ideolog yang mengambil jalan seruan dan ajakan untuk senantiasa teguh pada nilai-nilai perdamaian, keharmonisan, dan kebijaksanaan justru teruji oleh waktu. Karya, inspirasi, dan keyakinan yang diperjuangkan memberikan pesona kebanggan dan ketakjuban yang abadi dalam benak masyarakat yang mengikutinya atas dasar kerelaan dan kesadaran atau kemauan bebas.

Umumnya ideolog seperti ini asosiasinya lekat dengan para begawan, filsuf, orang bijak, atau tokoh spiritualitas, bukan petarung politik tetapi tak gentar menghadapi tantangan zaman. Sejarah mencatatnya dengan kertas putih bertinta emas sebagaimana yang pernah ditorehkan oleh para rasul seperti Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad. Para filsuf dan bijak seperti Socrates Konfusius, Nicolas Copernicus, Galileo Galilei, sampai Mahatma Gandhi.

Seruan yang mereka koarkan harus lebih dulu menghadapi banyak penolakan dan ujian untuk bisa didengarkan kemudian dipercaya oleh masyarakat, karena sudah menjadi watak dasar manusia untuk lebih mengharapkan diri pada janji akan kepastian perubahan dalam waktu singkat. Namun, pada akhirnya ideologi yang “mengajak” seperti ini meski memberi kesan awal kesanksian tetapi justru diakhiri dengan kepastian.

Betapa penting bagi para pelajar ilmu politik untuk memahami mengapa suatu ideologi itu terlahir, tumbuh, berkembang, bahkan mati di tengah masyarakat. Ini tak lain daripada pengaruh dari perkembangan pemikiran politik yang dinamis dan akseleratif, berkelindan dengan budaya politik yang terus dibangun, ideologi menjadi produk sekaligus inspirasi untuk lahirnya suatu keyakinan dan prinsip yang mendasari suatu komunitas manusia untuk menjadikannya sebagai dasar dan cita-cita yang patut diperjuangkan dalam jangka panjang. Secara positif ini berguna untuk menghindari sikap petualang (avonturir) yang cenderung oportunistik bagi seorang politikus atau kelompok politik.

Secara etimologis istilah ini berasal dari bahasa latin, dimana ideo berarti pemikiran dan logis berarti logika atau ilmu, sehingga didefinisikan sebagai ilmu mengenai keyakinan dan cita-cita. Ideologi juga merupakan rumusan alam pikiran yang terdapat di berbagai subjek atau kelompok masyarakat dan dijadikan dasar untuk direalisasikan. Ideologi tak hanya dimiliki oleh suatu negara atau bangsa, tetapi sangat mungkin dimiliki oleh suatu organisasi di dalamnya seperti partai atau asosiasi politik.

Terdapat pula perbedaan kedudukan antara ilmu, filsafat, dan ideologi dalam hal perjuangan politik. Baik ilmuwan maupun filsuf, tidak akan memaksakan atau berusaha mempengaruhi masyarakat untuk kemudian membentuk suatu kelompok yang melawan suatu kekuasaan politik yang dianggap merusak kehidupan publik. Ia hanya akan menjelaskan dan mempresentasikan apa yang ditemukannya sebagai suatu karya, yang secara moral dianggap perlu untuk diketahui oleh masyarakat, senantiasa bersikap netral atau bebas nilai, dan tidak beranjak lebih dari itu.

 Sementara ideologi dan ideolognya selalu terdorong untuk memunculkan perjuangan ke arah revolusi politik. Mereka memberikan inspirasi, pencerahan, mengarahkan, dan mengorganisir masyarakat untuk melakukan gerakan perlawanan, protes dan gugatan yang mencengangkan atas suatu ketidakadilan. Mereka selalu mengambil sikap dan pilihan di posisi mana harus berpijak, dengan penuh keyakinan, semangat, komitmen, dan tanggung jawab yang tentu saja harus dibayar mahal karena tidak ada janji manis ketenteraman abadi bagi mereka yang mengambil jalan pedang, sebelum kemenangan benar-benar bisa diraih.

 Ideologi memiliki beberapa ciri umum seperti: cita-cita yang dalam dan luas, bersifat jangka panjang, mengandung nilai-nilai universal, dirasakan kuat sebagai milik suatu kelompok, mengikat suatu kelompok. Beberapa ilmuwan politik yang dikutip dalam buku ini memiliki definisi yang beragam tentang ideologi, meski benang merahnya dapat dijumpai, diantaranya:

Ø  Alfian menyebut sebagai pandangan atau sistem nilai yang menyeluruh dan mendalam yang dipunyai dan dipegang oleh suatu masyarakat tentang sesuatu yang secara moral dianggap benar dan adil, dan mengatur tingkah laku bersama dalam berbagai segi kehidupan.

Ø  Ali Syariati menyebut bahwa ideologi ibarat kata ajaib yang menciptakan pemikiran dan semangat hidup di antara manusia, terutama kaum muda, dan khususnya di kalangan cendekiawan dan intelektual dalam suatu masyarakat.

Ø  Sukarna menyebutnya sebagai konsepsi manusia mengenai politik, sosial, ekonomi, dan kebudayaan untuk diterapkan dalam masyarakat dan negara.

Ø  Sidney Hook menyebutnya program aksi yang diperuntukan bagi suatu bangsa.

Gerakan ideologi pernah mendapatkan panggung yang penting tercatat dalam sejarah manusia, khususnya di sepanjang abad ke-20 hingga awal abad ke-21. Kehadirannya menggoyahkan banyak kekuatan status quo yang sebelumnya tak pernah terbayang dapat diruntuhkan. Ideologi melahirkan gerakan dan meletuskan revolusi baru yang membuat orang berpikir akan pentingnya reinterpretasi dan reorganisasi suatu tatanan kehidupan pada masyarakat tertentu. Ideologi besar seperti liberalisme, imperialisme, fasisme, komunisme, anarkisme, nasionalisme, dan lain sebagainya terus bertumbuhan dan menggetarkan peradaban. Satu persatu mucul dan hadir berjuang untuk membongkar tatanan lama dan membangun tatanan baru, berakhir dalam kegagalan total maupun keberhasilan yang gemilang.

Namun, sepertinya situasi sangat berbeda dengan era ini dimana arus globalisasi sudah demikian derasnya. Isu tentang perubahan besar-besaran tidak lagi bisa mendapatkan perhatian dengan tingkat antusiasme setinggi pada masa lalu. Di masa ini, keterbukaan dan akses terhadap komunikasi dan informasi digital sudah sangat luar biasa, sehingga tak ada celah lebar bagi seruan kepalsuan, kebohongan, dan ketidakjujuran dari suatu filsafat yang tumbuh menjadi ideologi untuk mengumbar janji terbangunnya peradaban ideal padahal ia berwajah hipokrit.

Firdaus Syam dalam buku ini memiliki analisis tentang beberapa kemungkinan yang melatari kelahiran suatu ideologi, diantaranya: 1) Lahir dari pemikiran seseorang, diinspirasikan oleh sosok -tokoh luar biasa, yang memiliki pengaruh kuat untuk menginspirasi masyarakat, lalu pikirannya mendapatkan dukungan dan diperjuangkan secara sistematis dalam gerakan politik; 2)  Lahir dari alam pikir masyarakat, oleh sekelompok orang yang berpengaruh, untuk berkonsensus dalam mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara, dan bila perlu dibubuhi pengakuan legal atau kultural agar dituruti; 3) Lahir dari keyakinan tertentu yang bersifat universal, semisal oleh sosok yang diyakini mewakili kehendak Tuhan, yang membawa pesan pembebasan dan bimbingan hidup serta konsekuensi moral bagi pelanggarnya.

Terlepas dari itu, pada prinsipnya suatu ideologi sering disamakan sebagai suatu keyakinan, sebab ia mengandung mitos dan cita-cita yang harus direalisasikan dan nilai kebenaran bagi pengikutnya. Ideologi bukan hanya diakui dan diakui, bahkan dihayati sebagai spirit hidup dan perjuangan untuk menjawab tantangan zaman. Mengutip Alfian, terdapat tiga dimensi yang harus dipenuhi oleh suatu ideologi agar mampu mempertahankan relevansinya, yakni:

1)    Dimensi Realitas. Mencakup kemampuan untuk selalu mencerminkan realita dari nilai-nilai riil yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat seperti budaya dan sejarahnya.

2)    Dimensi Idealisme. Kemampuan untuk selalu memberi harapan akan cita-cita masa depan yang lebih baik.

3)    Dimensi Fleksibilitas. Kemampuan untuk meneropong dan menghadapi perubahan secara luwes tanpa meninggalkan jatidirinya.

Selanjutnya dikutip pula Ali Syariati untuk menjelaskan tahapan-tahapan operasionalisasi dari suatu ideologi untuk dapat diterima oleh suatu masyarakat, yakni: pertama tentang cara melihat dan mengungkap eksistensi alam semesta dan manusia, kedua tentang cara menilai semua hal dan gagasan yang membentuk lingkungan sosial maupun mental kita, dan ketiga mencakup usulan metode sebagai pendekatan yang dipakai untuk mengubah status quo yang dianggapnya tak memuaskan.

Berangkat dari sekian banyaknya varian ideologi yang pernah tumbuh dan berkembang dalam sejarah peradaban manusia, faktanya bahwa ia akan selalu terus terbentuk dari pergulatan pemikiran yang terus menerus kita lakukan. Siklusnya bergerak dari suatu pemikiran politik yang berkelindan dengan budaya politik yang ada, berkembang menjadi filsafat dan teori politik, bahkan tak menutup kemungkinan untuk tumbuh menjadi suatu ideologi baru. Setidaknya terdapat tiga pendekatan aliran filsafat besar yang kerap melahirkan dan memberikan corak utama pada suatu ideologi, diantaranya:

1)    Filsafat Idealisme. Mengedepankan rasionalisme dan individualisme, yang dalam kehidupan politik telah melahirkan Liberalisme lalu Kapitalisme atau juga Kolonialisme dan Imperialisme. Menempatkan manusia dengan kemampuan idenya sebagai center of nature, bahwa alam pikir manusia yang sebebasnya itulah titik pangkal sejarah manusia.

2)    Filsafat Materialisme. Mengedepankan emosi perjuangan kelas sosial dan kolektivisme, yang dalam kehidupan politik melahirkan Sosialisme, Anarkisme, Komunisme. Menempatkan realitas material, corak produksi, atau basis ekonomi adalah faktor penentu perubahan sejarah manusia.

3)    Filsafat Teologis. Prinsipnya mengedepankan ajaran ilahiah untuk peran sentral dalam kehidupan politik dan kenegaraan, baik dalam bentuk pengkultusan pada pemuka agama sebagai wakil Tuhan, maupun dalam bentuk lain yang cukup menempatkan keimanan sebagai sumber inspirasi dan guidance bagi pejuang politik dan enyelenggara negara.

Akhir kata, buku ini layak dan penting dibaca oleh setiap pelajar ilmu sosial, politik, humaniora, bahkan masyarakat lainnya. Gaya bahasa dalam penulisan yang dipergunakan oleh Firdaus Syam terasa mengalir, ringan, dan kerap dijumpai diksi yang cukup puitis sehingga saya kira akan membantu pembaca awam sekalipun untuk dapat mengikuti pengetahuan yang sedang dihantarkan. Meski demikian, masih terdapat beberapa cela seperti salah ketikan atau juga penggunaan kata yang salah/tidak baku, sehingga saya akan sangat menarik jika naskah ini kembali naik cetak dengan mendapatkan sentuhan editor yang cermat.

RUJUKAN

Syam, Firdaus. 2007. Pemikiran Politik Barat: Sejarah, Filsafat, Ideologi, dan Pengaruhnya Terhadap Dunia Ke-3. Jakarta: Bumi Aksara.

_***_